Ketua Umum PB Al Jam’iyatul Washliyah, KH Masyhuril Khamis mengajak umat Islam dan organisasi kemasyarakatan Islam untuk memperkuat persatuan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa.
Ajakan tersebut disampaikan dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam, 1 Muharam 1448 Hijriyah, yang bertepatan dengan tanggal 16 Juni 2026.
“Tantangan zaman yang dihadapi semakin kompleks, dari kesulitan ekonomi, polarisasi sosial, ancaman kerusakan akhlak, hingga pengaruh paham yang memecah belah. Karena itu, persatuan di antara sesama ormas Islam menjadi kebutuhan mendesak,” ujar Kiai Masyhuril kepada pers di Jakarta, Senin, 15/6.
Perbedaan pendapat dalam hal cabang keagamaan dan cara berdakwah, menurut Kiai Masyhuril, adalah hal yang wajar dan dihormati, namun tidak boleh dijadikan alasan untuk berpecah belah dan saling menjatuhkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk (QS Ali Imran Ayat 103).
Kiai Masyhuril menjelaskan, persatuan bukan berarti menghilangkan kekhasan. Persatuan merupakan kunci utama bagi kelangsungan hidup suatu bangsa. Persatuan tidak menuntut hilangnya identitas, metode, atau khazanah pemikiran masing-masing Organisasi Kemasyarakatan.
Perbedaan dimaknai sebagai rahmat Allah SWT untuk dapat saling melengkapi. Oleh karena itu, perbedaan patut dijadikan sebagai kekayaan di tengah-tengah umat, bukan sumber perselisihan bangsa. Fokus utama terletak pada prinsip-prinsip pokok agama dan kepentingan bersama bangsa dan negara Indonesia.
“Hal tersebut harus dibangun melalui sikap saling menghormati, saling percaya, dan saling bekerja sama antara satu dengan lainnya,”kata dia.
Kiai Masyhuril menegaskan, persatuan Ormas Islam merupakan kekuatan bagi bangsa. Persatuan Ormas Islam akan melipatgandakan manfaat melalui program pendidikan, dakwah, bantuan sosial, dan pemberdayaan ekonomi. Persatuan dan kolaborasi tersebut tentu akan lebih luas jangkauannya dan lebih terasa dampaknya bagi masyarakat.
“Di sisi lain, persatuan menjadi benteng kuat melawan paham ekstrimisme, radikalisme, dan upaya memecah belah yang ingin merusak keutuhan NKRI, dengan demikian persatuan ormas Islam akan menjadi mitra yang konstruktif bagi pemerintah dalam mewujudkan keadilan, kesejahteraan, dan ketertiban umum,” ujar Kiai Masyhuril.
Kiai Masyhuril menambahkan, langkah-langkah konkret untuk mempererat persatuan, yakni untuk memperkuat komunikasi, selalu buka ruang dialog, silaturahim dan musyawarah antar pimpinan dan anggota ormas Islam secara berkala.
Ormas Islam juga diharapkan bisa bersinergi dalam program nyata, bergandeng tangan dalam menangani masalah persoalan umat seperti pengentasan kemiskinan, bantuan bencana, pendidikan, perbaikan akhlak, dan pemberantasan narkoba serta program-program ekonomi lainnya.
Umat juga diminta untuk menjauhi ujaran yang memecah belah, hentikan perdebatan yang tidak produktif, kritik yang menjatuhkan, dan penyebaran informasi yang menimbulkan prasangka buruk di antara sesama umat Islam. Tegakkan komitmen kebangsaan, bersama-sama menjaga Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai landasan hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.***()












