Sekretaris Jendral Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat DR. KH Amirsyah Tambunan mengatakan, menyuruh anak-anak yatim minta sumbangan di jalanan dengan membawa-bawa proposal Yayasan yang menampungnya adalah tindakan tidak terpuji. Ini bertentangan dengan ajaran Islam yang memuliakan kedudukan anak yatim.
Hal tersebut disampaikan pada tausiah “Buka Puasa Bersama Anak Yatiam” asuhan DR. Misbah Fikrianto, di Komplek Perumahan Setia, Jatiwaringin, Pondok Gede, Minggu 23 Maret 2025.
“Saya sedih sekali melihat yayasan mengatas namakan anak yatim, kemudian menyuruh anak-anak asuhannya meminta sumbangan dengan membawa proposal ke perusahaan-perusahaan ataupun kepada orang-orang kaya. Ini bukan cara yang diajarkan Islam tapi merendahkan martabat anak yatim,” tuturnya.
Bahkan yang lebih miris lagi, sambung Amirsyah, ada pula yayasan memblokade jalan, dengan meletakkan/mendirikan meja kotak sumbangan di tengah jalan, dan menyuruh santrinya menjaganya secara bergantian.
“Ini kan menantang maut namanya. Jalanan jadi macet, pengguna lain menggerutu. Kalau terjadi kecelakaan bagaimana?” sedih Amirsyah.
Makanya, lanjut Amirsyah, memelihara anak yatim harus ikhlas dengan niat memuliakannya. Bukan mengeksploitasinya.
“Ini perintah agama. Langsung dari Allah melalui firmannya di dalam al-Quran. Jadi kalau ingin mendirikan yayasan anak yatim, dirikanlah dengan niat Ikhlas untuk memuliakannya,” pinta Amirsyah.
Amirsyah juga mengatakan memelihara anak yatim tidaklah harus melalui atau mendirikan yayasan. Tetapi juga bisa memberikan langsung ke tempat mereka atau mengundangnya ke rumah secara berkala.
“Apa yang dilakukan oleh tuan rumah (DR. Misbah Fikrianto, MM., M.Si, M.Pd., -Dekan FKIP UIA -red), dengan mengundang anak-anak yatim ke kediamannya secara berkala, lebih mulia dari menampung mereka di yayasan, tetapi kemudian menyuruhnya bergerilya di jalanan menantang maut, dan menenteng-nenteng proposal ke sana-kemari,” tutupnya.
Sementara itu tuan rumah Dr. Misbah Fikrianto mengatakan bahwa keluarga besarnya sudah mentradisikan mengundang anak-anak yatim yang berada di lingkungannya, sebulan sekali.
“Ini adalah wujud syukur atas rezeki yang Allah limpahkan kepada keluarga kami. Mudah-mudahan tradisi yang sudah kami mulai sejak beberapa tahun lalu ini bisa terus berlangsung dengan ikhlas,” ujar Misbah yang di lingkungannya menjabat sebagai “Ketua RW Abadi”.